POJOKSATU.id, JAKARTA – Perusahaan sektor minyak dan gas (migas) dimminta untuk tidak lagi melakukan impor. Hal ini disampaikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).
Pasalnya, dalam mewujudkan percepatan energi hingga mencapai Biodiesel 100 (B100) perlu usaha yang tidak mudah.
“Saya ingatkan bahwa untuk keberhasilan B30 maupun nantinya menuju ke B100, apakah kita mau keluar dari rezim impor atau tidak. Jangan-jangan masih ada di antara kita yang masih suka impor BBM,” katanya.
“Karena itu permintaan terhadap B30 menuju ke B100 dalam negeri harus terus dikembangkan dan diperbesar,” sambungnya.
Lebih lanjut Jokowi mengakui, ketergantungan Indonesia terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM) cukup tinggi.
Namun di sisi lain, Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar di dunia. Potensi sawit yang besar dapat menciptakan bahan bakar nabati yang berkualitas sebagai pengganti bahan bakar solar.
“Potensi itu harus kita manfaatkan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional kita. Usaha-usaha untuk mengurangi impor harus terus dilakukan dengan serius,” paparnya.
Dengan tingginya permintaan B30, dikatakan Jokowi, akan menciptakan permintaan domestik terhadap minyak kelapa sawit (Cruel Palm Oil/CPO) yang besar. Hal tersebut akan berimbas pada sektor pertanian khususnya petani sawit.
“Selanjutnya menimbulkan multiplier effect terhadap 16,5 juta petani, pekebun kelapa sawit kita. Ini artinya problem B30 akan berdampak pada pekebun kecil dan menengah, petani rakyat yang selama ini memproduksi sawit,” tambahnya.
Jokowi menuturkan, dengan terus meningkatkan penerapan bahan bakar biodiesel, Indonesia tidak mudah diperdaya oleh negara manapun terutama melalui kampanye negatif yang dilakukan beberapa negara terhadap ekspor CPO.
(jpc/pojoksatu)


Thursday January 01, 1970