POJOKSATU.id, JAKARTA – Realisasi investasi pada semester kedua 2019 naik 9,4 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Hal ini didasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Disebutkan, total realisasi investasi periode Januari hingga Juni 2019 mencapai Rp 395,6 triliun.
Angka itu terdiri atas realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 182,8 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebanyak Rp 212,8 triliun.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, realisasi investasi tersebut melebihi ekspektasi lantaran pilpres berjalan kondusif sehingga menjadi salah satu faktor investor tidak ragu untuk menanamkan dana di Indonesia.
“PMA masih berjalan cukup lambat. Berbeda dengan PMDN, ada proyek-proyek yang dikerjakan oleh BUMN, bisa menjadi penopang. PMA seharusnya lebih tinggi lagi dengan adanya insentif fiskal,” ujarnya.
Stabilitas nilai tukar rupiah juga dinilai jadi pendorong stabilnya iklim investasi di Indonesia.
Sementara itu, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani Indrawati menguraikan, kondisi sistem keuangan Indonesia masih terjaga.
Hal tersebut ditopang industri perbankan yang tetap sehat dan pasar keuangan yang kondusif.
“Selain itu, juga kenaikan imbal hasil investasi portofolio dan aset keuangan domestik serta membaiknya persepsi terhadap prospek ekonomi seiring peningkatan rating Indonesia,” papar Sri.
Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu melanjutkan, berbagai perkembangan positif tersebut mendorong aliran modal asing masuk ke Indonesia.
Hal itu berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah dan meningkatkan kinerja pasar obligasi serta pasar saham.
Meski demikian, KSSK tetap mewaspadai beberapa perkembangan eksternal dan domestik. Dari eksternal, salah satunya adalah berlanjutnya ketegangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
(jpnn/pojoksatu)


Thursday January 01, 1970