POJOKSATU.id, SAMARINDA – Produksi batu bara pada triwulan kedua 2019 diprediksi akan lebih rendah.
Hal ini disampaikan Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kalimantan Timur Harry Aginta.
Dari sisi pertambangan migas, natural declining blok migas Kaltim diperkirakan masih menjadi penyebab utama perlambatan.
“Namun, rencana investasi dalam bentuk pengeboran sumur baru yang dilakukan pengelola blok migas mulai memberi dampak walaupun belum signifikan terhadap kinerja lifting migas triwulan II,” ungkapnya.
Pergerakan harga komoditas internasional diperkirakan masih melanjutkan tren perlambatan.
Kendati begitu, permintaan batu bara di pasar internasional diyakini masih cukup tinggi, terutama dari India.
Dengan demikian, dikatakan, masih ada kemungkinan produksi batu bara akan lebih baik pada triwulan berikutnya.
“Pada triwulan pertama tahun ini, kinerja pertambangan mengalami akselerasi luar biasa yang menyebabkan ekonomi Kaltim tumbuh 5,36 persen,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pertumbuhan lapangan usaha pertambangan triwulan I 2019 tercatat sebesar 7,19 persen (yoy).
Angka itu lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2018 yang tumbuh 6,84 persen (yoy).
Dengan pangsa sebesar 46,25 persen, lapangan usaha pertambangan memberikan kontribusi andil pertumbuhan sebesar 3,38 persen (yoy) terhadap ekonomi Kaltim pada triwulan I 2019.
Sementara itu, volume ekspor batu bara Kaltim triwulan I tercatat tumbuh sebesar 12,88 persen (yoy).
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2018 yang tumbuh sebesar 10,53 persen (yoy).
“Pada triwulan kedua, produksi bisa melambat akibat curah hujan yang lebih banyak. Secara tahunan, ekonomi Kaltim masih stabil,” pungkasnya.
(jpnn/pojoksatu)


Thursday January 01, 1970