POJOKSATU.id, JAKARTA – Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) menjadi dua negara tujuan ekspor terbesar.
Tiongkok dengan nilai USD 2,11 miliar, sedangkan AS sebesar USD 1,60 miliar dan disusul Jepang sebesar USD 1,48 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, kontribusi ketiga negara mencapai 35,95 persen dari total ekspor Agustus.
“Sementara ekspor ke Uni Eropa, sebanyak 28 negara, sebesar USD 1,52 miliar,” tuturnya, dilansir JPNN.
Sementara itu, untuk eskpor tertinggi berasal dari wilayah Provinsi Jawa Barat sebesar USD 20 miliar atau 18,83 persen dengan jenis komoditasnya kendaraan dan bagiannya.
Disusul Provinsi Jawa Timur senilai USD 12,74 miliar atau 10,61 persen dengan jenis barang perhiasan dan minyak kelapa sawit.
Kemudian dari Kalimantan Timur dengan komoditas bahan bakar mineral dan minyak kelapa sawit, senilai USD 12,18 miliar atau 10,14 persen.
Diketahui, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2018 turun 2,9 persen menjadi USD 15,82 miliar dari Juli 2018 yang sebesar USD 16,24 miliar.
Namun, bila dibandingkan dengan tahun lalu maka laju ekspor terjadi kenaikan 4,15 persen dari sebesar USD 15,19 miliar.
Disebutkan, penurunan ekspor dari Juli ke Agustus disebabkan dua faktor, karena penurunan ekspor migas dan nonmigas.
Suhariyanto merincikan, sektor migas turun 3,27 persen dari USD1,43 miliar jadi USD 1,48 miliar. Penurunan ekspor migas disebabkan menurunnya ekspor hasil minyak 10,01 persen dan ekspor gas 22,75 persen.
Sedangkan, ekspor minyak mentah naik 46,01 persen. Sektor nonmigas mengalami penurunan 2,86 persen, dari USD 14,8 miliar jadi USD 14,4 miliar.
“Ini karena ada penurunan komoditas bahan bakar mineral yaitu bijih, kerak dan abu logam, juga penurunan ekspor karet dan barang-barang dari karet,” ujarnya.
Menurutnya, ekspor Indonesia pada Agustus 2018 masih didominasi oleh sektor industri pengolahan yang berkontribusi 72,14 persen. Sementara industri pertanian masih kecil dengan kontribusi 1,82 persen.
(mys/JPC/pojoksatu)